Beranda | Artikel
Memahami Petunjuk Sang Pemberi Petunjuk
15 jam lalu

Memahami Petunjuk Sang Pemberi Petunjuk ini merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 28 Rabiul Awal 1448 H / 10 September 2026 M.

Kajian Tentang Memahami Petunjuk Sang Pemberi Petunjuk

Pangkal kegelisahan hidup muncul akibat manusia terlalu fokus memikirkan hal-hal yang belum dimiliki, hingga melupakan limpahan karunia yang telah ada dalam genggaman. Padahal, melalui perenungan yang mendalam, setiap hamba akan menyadari betapa melimpahnya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.

Hakikat dan Pembagian Hidayah

Salah satu karunia agung yang kerap dilupakan adalah petunjuk atau hidayah. Hidayah sering kali dipahami sebatas urusan ukhrawi atau keagamaan yang hanya dinikmati oleh orang beriman. Padahal, petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki nama Al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) mencakup perkara duniawi maupun ukhrawi, bahkan dinikmati oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, mengelompokkan hidayah menjadi empat tingkatan. Tiga tingkatan petunjuk berada di dunia, sedangkan tingkatan keempat berada di akhirat:

  • Pertama, petunjuk untuk seluruh makhluk di dunia.
  • Kedua, petunjuk untuk makhluk yang mukalaf di dunia.
  • Ketiga, petunjuk khusus untuk makhluk mukalaf pilihan di dunia.
  • Keempat, petunjuk yang kelak diberikan di akhirat.

Petunjuk Tingkat Pertama: Naluri untuk Seluruh Makhluk

Petunjuk tingkat pertama diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali, baik manusia yang beriman maupun kafir, bangsa jin, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan.

Bentuk hidayah ini berupa kemampuan naluri dan arahan alami agar setiap makhluk dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Hidayah ini membimbing makhluk untuk mencari sumber makanan, berkembang biak, serta mempertahankan dan melindungi diri ketika menghadapi marabahaya.

Bukti Hidayah Naluri pada Manusia, Hewan, dan Tumbuhan

Bayi yang baru lahir langsung memiliki kemampuan untuk mengisap air susu ibunya tanpa perlu diajari terlebih dahulu. Bayi belum bisa melihat dengan jelas, belum bisa mencerna informasi, dan belum bisa berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menanamkan petunjuk naluriah tersebut sejak manusia dilahirkan.

Petunjuk ini juga berlaku bagi hewan. Anak penyu yang baru menetas di daratan langsung bergerak menuju laut berdasarkan naluri yang diberikan oleh Allah. Anak ayam yang baru menetas dari cangkang telur pun dapat langsung mengais tanah dan mematuk makanannya secara tepat. Begitu pula lebah yang mampu membangun sarang berbentuk segi enam dengan sangat rapi untuk mendukung kelangsungan hidupnya.

Selain naluri mencari makan, Allah juga membekali hewan dengan naluri bertahan hidup saat menghadapi ancaman. Burung kecil akan langsung terbang saat didekati kucing, dan rusa akan segera melarikan diri ketika melihat harimau karena adanya naluri bahaya yang telah Allah tanamkan.

Tumbuhan pun memperoleh petunjuk serupa dari Allah. Saat benih mulai tumbuh, akar bergerak ke bawah untuk mencari air serta nutrisi. Setelah itu, tunas, batang, dan daun tumbuh mengarah ke sumber cahaya matahari agar dapat melakukan proses fotosintesis.

رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha [20]: 50)

Tadabur Alam Semesta dan Penguatan Iman

Petunjuk tingkat pertama bersifat umum bagi seluruh makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mencermati keteraturan alam semesta, hewan, dan tumbuh-tumbuhan seharusnya memperkuat keimanan kepada Sang Pencipta. Sangat janggal apabila seorang ilmuwan menjadi ateis, sebab penjelajahan sains semestinya menyadarkan manusia akan kebesaran kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala, kasih sayang-Nya, serta kerapian sistem yang diciptakan-Nya di alam semesta.

Petunjuk Tingkat Kedua: Bimbingan bagi Makhluk Mukalaf

Tingkat petunjuk yang kedua lebih khusus karena diperuntukkan bagi makhluk mukalaf, yaitu golongan yang mendapatkan kewajiban syariat: jin dan manusia.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Petunjuk ini berupa penjelasan mengenai jalan yang benar dan jalan yang salah, serta rincian perkara yang harus dikerjakan maupun ditinggalkan agar selamat menuju surga dan terhindar dari neraka. Bimbingan ini Allah berikan kepada seluruh manusia dan jin tanpa terkecuali, melalui penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya mencukupi kebutuhan fisik makhluk-Nya, tetapi juga menyediakan nutrisi bagi hati berupa wahyu yang diturunkan dalam kitab-kitab suci dan dijabarkan oleh para rasul.

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad [90]: 10)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan jalan kebaikan untuk diikuti dan jalan keburukan untuk ditinggalkan; merinci perkara yang halal maupun haram, serta yang makruf maupun mungkar. Penjelasan kedua jalan tersebut bertujuan agar manusia tidak keliru, sehingga tidak terjebak menyerukan kemungkaran dan melarang kemakrufan.

Perbedaan Antara Mengetahui dan Mengikuti Kebenaran

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan secara gamblang perkara yang halal dan haram, jalan menuju surga, serta jalan menuju neraka. Kendati petunjuk tersebut telah terang benderang, tidak semua orang mau mengikutinya. Mengetahui kebenaran berbeda dengan mengikutinya, sebagaimana mendengar dengan telinga berbeda dengan menerima dengan lapang dada di dalam hati.

Banyak orang memahami bahwa shalat itu wajib atau mengetahui bahaya kemudharatan bagi dunia dan akhirat, tetapi akal dan pengetahuannya tidak serta-merta menggerakkannya untuk taat. Pendengaran dan logika manusia mampu menangkap dampak buruk suatu perkara, namun urusan penerimaan hati berada di luar kendali akal semata.

Petunjuk Tingkat Ketiga: Hidayah Taufik bagi Hamba Pilihan

Petunjuk tingkat ketiga adalah hidayah taufik yang khusus diperuntukkan bagi hamba-hamba mukalaf pilihan, yaitu orang-orang beriman yang hatinya dibukakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menerima kebaikan. Sebagai contoh, kehadiran seseorang di majelis ilmu atau langkah kaki menuju masjid murni digerakkan oleh Allah, sebab tidak semua orang yang tinggal berdekatan dengan masjid tergerak hatinya untuk melangkah.

Hidayah berupa terbukanya hati untuk menerima kebaikan ini mutlak berada di tangan Allah semata. Bahkan makhluk termulia di muka bumi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak memiliki kuasa untuk menanamkan hidayah ini ke dalam hati orang yang beliau cintai.

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi hanya Allah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qasas [28]: 56)

Pelajaran dari Kisah Abu Thalib dan Keutamaan Bersyukur

Ayat tersebut turun berkaitan dengan paman beliau, Abu Thalib, sosok yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memiliki jasa yang sangat besar dalam membela dakwah Islam. Abu Thalib sangat meyakini kebenaran ajaran Islam yang disampaikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun hatinya tidak dibukakan untuk memeluk keimanan hingga akhir hayatnya.

Kemampuan seorang hamba untuk beribadah, menuntut ilmu, mengenal tauhid, dan menjalankan sunnah bukan berasal dari kehebatan pribadi, kecerdasan, ataupun jasa yang besar, melainkan semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla. Kesadaran ini menuntut rasa syukur yang mendalam atas nikmat hidayah, mencegah sikap suka mengeluhkan ujian hidup duniawi, serta menjauhkan diri dari kesombongan yang meremehkan orang lain yang belum dibukakan pintu hatinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Larangan Bersikap Sombong Atas Hidayah

Seseorang tidak boleh bersikap sombong atau merasa diri paling hebat saat melihat orang lain belum menjalankan shalat. Tidak ada jaminan bahwa orang yang saat ini rajin beribadah akan tetap shalat hingga akhir hayatnya. Sebaliknya, orang yang saat ini belum shalat bisa jadi diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga berubah menjadi rajin ke masjid. Sementara itu, orang yang angkuh dan sombong justru dapat dicabut hidayahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Petunjuk Tingkat Keempat: Hidayah di Hari Kiamat Menuju Surga atau Neraka

Petunjuk keempat berbeda dengan tiga tingkat petunjuk sebelumnya karena petunjuk ini diberikan di akhirat. Pada hari kiamat, suasana sangat gelap gulita tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan petunjuk kepada masing-masing golongan: calon penghuni surga dibimbing menuju surga, sedangkan calon penghuni neraka digiring menuju neraka. Tiada seorang pun yang akan tersesat ke tempat selain tujuan akhirnya.

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Dan kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi kami petunjuk.’” (QS. Al-A’raf [7]: 43)

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ ‎﴿٢٢﴾‏ مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ ‎﴿٢٣﴾

“(Diperintahkan kepada malaikat), ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman yang sejenis mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allah; lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 22-23)

Ringkasnya, hidayah terbagi menjadi empat tingkat. Tiga tingkat pertama berlangsung di dunia, yaitu petunjuk naluri untuk seluruh makhluk, bimbingan bagi seluruh mukalaf, serta hidayah taufik bagi mukalaf pilihan. Tingkat keempat berlangsung di akhirat berupa bimbingan bagi para penghuni surga untuk memasuki surga dan penggiringan para penghuni neraka menuju neraka.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Memahami Petunjuk Sang Pemberi Petunjuk” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56580-memahami-petunjuk-sang-pemberi-petunjuk/